Selama ini kita menganggap jika sudah vaksinasi, maka aman dari Covid 19. Apalagi jika sebagian besar masyarakat sudah divaksinasi, berarti sudah mencapai herd immunity (kekebalan kelompok) atau mudahnya penularan Covid 19 sudah bisa ditekan.
Tapi ternyata apa yang terjadi di Singapura, tidak seperti anggapan tersebut. Negara berpenduduk 5,7 juta orang itu kembali mengalami lonjakan kasus Covid 19 (pada minggu 26/9/2025). Bahkan lonjakan tersebut mencapai rekor penambahan kasus Corona tertinggi dalam sehari selama ini, yakni hingga 1.939 kasus. Padahal sebagian besar warganya sudah melakuka vaksinasi Covid-19. Berdasarkan data per 25 September 2021, sebanyak 82 persen penduduk Singapura telah divaksinasi secara penuh.
Baca juga : Awas! Lonjakan Kasus Covid di Indonesia Bakal Terjadi Lagi, Ini Penyebabnya!
Sebelumnya Singapura sudah percaya untuk bisa ‘hidup berdampingan dengan Covid19’. Sejumlah peraturan pun sudah dilonggarkan, termasuk tidak lagi memberlakukan karantina bagi mereka yang masuk ke Singapura. Singapura juga mulai melonggarkan pembatasan untuk tempat makan, tempat kerja, dan tempat hiburan.
Sudah Vaksinasi Kasus Melonjak, Kok Bisa?
Terjadinya lonjakan kasus di Singapura padahal sebagian besar warganya sudah divaksinasi, ternyata disebabkan oleh keganasan virus Corona varian Delta (B1617.2). Padahal Singapura juga mengaku sudah menerapkan berbagai tindakan pencegahan penularan Covid-19. Lalu kok bisa kasus Covid 19 tetap melonjak ?
Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, sebagaimana yang dikutip dari detik.com, mengaku penyebab lonjakan kasus Covid 19 di Singapura disebabkan oleh varian Delta ‘tidak mengikuti skenario’ di negaranya. “Varian ini ditularkan melalui komunitas dan kasus harian meningkat lebih cepat dari yang kami harapkan, sebelum rencana kami diimplementasikan sepenuhnya,” kata Ong dikutip dari Channel News Asia. Lebih lanjut Ong menyebut kejadian ini sebagai risiko yang perlu dihadapi jika ingin hidup berdamai dengan COVID-19.
“Itulah yang harus dihadapi setiap negara dan jalan ke depan yang tak bisa terhindarkan, jika kita ingin hidup dengan Covid-19” ungkap Ong. Kini negaranya tengah berupaya untuk mencegah sistem layanan kesehatan agar tidak kewalahan.
Berdasarkan penelitian Pusat Nasional Penyakit Menular Singapura (NCID), varian Delta ternyata mampu lolos dari antibodi yang terbentuk di tubuh sehingga menyebabkan penularan pada mereka yang telah divaksinasi sekalipun. Meski begitu, sistem kekebalan tubuh yang dibuat oleh antibody tetap mampu menahan virus agar tidak bereplikasi dengan cepat, sehingga tidak mengakibatkan gejala yang parah.
Baca juga : Kasus Covid 19 Turun Drastis, Indonesia Sudah Aman ?
Dari data lonjakan kasus Covid 19 di Singapura, menunjukkan, 52 persen infeksi bulan lalu di tercatat mengenai orang yang telah divaksinasi, sementara 48 persen orang yang tidak divaksinasi. Di mana Singapura menggunakan vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna untuk program vaksinasi Covid 19.
Dengan adanya lonjakan kasus ini, Singapura akan menerapkan kembali aturan jaga jarak sosial, termasuk mengurangi jumlah orang yang diperbolehkan makan di restoran dari lima menjadi dua orang. Selain itu juga mengarahkan perusahaan untuk mengizinkan karyawannya bekerja dari rumah.

Ganasnya Varian Delta
Lonjakan kasus di Singapura bisa menjadi pelajaran. Bahwa meski sudah melakukan vaksinasi, tidak menjadi jaminan 100% aman dari infeksi Covid 19. Penularan masih bisa saja terjadi meski sudah mendapatkan vaksin Covid 19 secara penuh sekalipun.
Namun ini bukan berarti vaksinasi Covid 19 yang sudah dilakukan menjadi sia-sia. Direktur eksekutif Pusat Nasional Penyakit Menular Singapura (NCID), Profesor Leo Yee Sin, mengatakan vaksin Covid-19 tetap dapat memberikan perlindungan yang efektif terhadap virus Corona penyebab Covid 19. “Umumnya, pasien yang sudah divaksinasi lengkap (dua kali vaksin-red) saat terinfeksi Covid 19, memiliki gejala yang lebih ringan dan sebagian besar pulih dengan lancar, kecuali jika mereka memiliki penyakit penyerta yang membuat mereka menjadi rentan,” ujarnya.
Efek dari vaksinasi juga terasa pada lonjakan kasus di Singapura. Walaupun jumlah kasus melonjak, namun kematian akibat Covid-19 di Singapura masih rendah, yaitu rata-rata tiga kematian per hari pada pekan lalu.
Negara Lain Juga Melonjak
Lonjakan kasus Covid 19 yang kembali terjadi, tidak hanya terjadi di Singapura, tapi juga di beberapa negara lainnya. Mengutip Reuters, China juga kini tengah mengalami lonjakan wabah Covid-19, terutama terjadi di Provinsi Fujian, China Tenggara, meningkat lebih dari dua kali lipat. Selain itu kota lain yang juga mengalami lonjakan kasus Covid-19 adalah Xiamen dan Putian.
Dikutip dari The Guardian, pihak berwenang di Cina menduga terjadinya lonjakan kasus ini disebabkan oleh penyebaran virus Corona varian Delta (B1617.2). Hal ini diduga lonjakan kasus ini berawal dari seorang pria yang baru saja kembali dari Singapura dan mengalami gejala.
Baca juga : Perbedaan Vaksin Baru Covid 19 (Sputnik V, Janssen, Condencia), Ada Yang Cukup Satu Kali Suntikan
Selain itu, lonjakan kasus juga terjadi di Jerman. Seperti dikutip dari Reuters, Jerman mencatat lonjakan kasus infeksi Covid 19 tertinggi pada hari Sabtu (23/10/2025), mencapai 100 kasus. Di mana sebelumnya Jerman memberlakukan ketentuan lockdown jika mencapai 100 kasus per seribu penduduk dalam tujuh hari terakhir.
Rusia juga mengalami hal yang sama. Melansir dari AP, Rusia melaporkan rekor tertinggi jumlah infeksi dan kematian akibat Covid 19. Jumlah kematian harian sekitar 33% lebih tinggi dari yang tercatat pada akhir September dan kasus infeksi telah meningkat sekitar 70% dalam sebulan terakhir.
Indonesia Sudah Aman ?
Meski kasus Covid 19 di Indonesia sudah semakin membaik, bukan berarti Covid 19 sudah hilang. Ini terbukti dari masih adanya kasus Covid 19 yang terjadi setiap di berbagai daerah, meski jumlahnya tidak sebanyak dulu. Namun disebutkan Indonesia bisa berpotensi mengalami risiko lonjakan kasus Covid yang ketiga dan diprediksikan terjadi setelah masa libur Natal dan Tahun Baru.
Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko yang memprediksi lonjakan kasus diperkirakan akan terjadi selambatnya pada Maret 2022. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito juga mengatakan berdasarkan pengalaman, gelombang ketiga di di Indonesia bisa terjadi dalam tiga bulan ke depan, tepatnya mulai libur Natal dan Tahun Baru. Jadi, jika kita tidak berhati-hati dan tidak lagi mematuhi protokol kesehatan secara ketat, bukan tidak mungkin apa yang diprediksikan soal terjadi lonjakan ketiga gelombang Covid 19 di Indonesia benar akan terjadi.

